Jumat, 05 April 2013

Shalat Qadha

Apakah seorang muslim diperbolehkan meng-Qodho' (mengganti) shalat yang ditinggalkannya?



      Shalat merupakan kewajiban islami bagi setiap Muslim yang mukallaf, dan alQuran mengatakan , "Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman" (QS an-Nisa : 103) yang suatu kewajiban yang dibebankan kepada setiap mukkalf, yang ditentukan waktunya, dalam alQuran juga dikatakan, "Peliharalah shalat," (QS alBaqarah : 238)

     jika seorang muslim meninggalkan satu shalat fardhu atau lebih, maka ia harus menggantinya (meng-Qodo'nya) secara tertib, jika shalat itu tidak lebih dari lima shalat. Apabila lebih dari itu maka tidak diharuskan dikerjakan secara tertib. Jika seorang mengetahui jumlah raka'at yang ditinggalkannya, maka ia harus meng-Qodo'nya secara penuh, namun jika ia telah lupa berapa jumlah raka'at yang telah ia tinggalkan, maka ia harus meng-Qodo'nya sampai timbul rasa mantap (yakin) dalam hatinya bahwa ia telah meng-qodo shalat yang telah ia tinggalkan. Ia harus mengecek hal itu semampunya jika ia tidak dapat mengetahui secara tepat berapa banyak shalat yang telah ia tinggalkan.

     Dengan demikian, maka ia tidak akan terkena hukuman meninggalkan shalat, namun ia tetap terkena dosa mengakhirkan shalat dari waktunya. Dan ia dapat menghindari dosa ini dengan bertobaat dan meminta ampun kepada Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

     Bisa saja seorang yang meninggalkan shalat dalam waktu yang lama, enam bulan misalnya, mulai meng-Qodho shalat yang ditinggalkannya itu dengan cara ia membarengkannya dengan shalat fardhu. Misalnya ia melakukan shalat subuh yang ditinggalkannya bersama shalat subuh yang harus ia lakukan saat ini. Atau ia melakukan shalat Zuhur bersama shalat zuhur yang wajib dikerjakannya saat itu. Dan ia juga boleh mengerjakan shalat-shalat qodho'nya pada saat biasa melaksanakan shalat-shalat sunnah yang menyertaai shalat fardhu, setelah sempurna shalat qodho'nya, maaka ia kembali mengerjakan shalat-shalat sunnah.


Informasi : Ingin membuat website. DISINI tempatnya....


keywords:
mengqhodo shalat, mengganti shalat yang ditinggalkan, shalat Qhodo', jika meninggalkan shalat, mengganti (meng-Qodho) shalat, bolehkan mengganti shalat yang ditinggalkan, bagaimana meng qodho' atau mengganti shalat, mengganti shalat, mengQODHO shalat.

3 komentar:

  1. Galau saya tentang qadha shalat. Kalau memang qadha shalat itu ada lalu kenapa wanita hanya diwajibkan menqadha puasa Ramadhannya yang tinggal? Kenapa selesai haidh wanita tidak disuruh menqadha shalatnya juga?

    Kalau memang ada qadha shalat lalu untuk apa Jamak dan Qashar saat musafir?

    Kalau memang ada qadha shalat kenapa juga orang sakit juga tak boleh meninggalkan shalat? Bukankah bisa shalatnya nanti pas udah sembuh? Dalam keadaan apa pun bukankah kita wajib shalat kecuali sudah meninggal? Nggak bisa berdiri boleh duduk, gk bisa duduk boleh berbaring.

    Kenapa? Kenapa? Kenapa?

    Saya memperhatikan dgn adanya qadha shalat membuat shalat fardhu itu dianggap enteng.
    Saat selesai shalat fardhu sebenarnya kan shalat rawatib. Ditempat yg saya kunjungi ini mereka melaksanakan shalat qadha. Ada yg qadha shubuh, qadha zhuhur, qadha ashar.

    Tapi entahlah. Hom. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. dalam sebuah hadis dijelaskan seperti ini :
      dari Muslim dari Anas bin Malik ra.: “Siapa yang lupa (melaksanakan) suatu sholat atau tertidur dari (melaksanakan)nya, maka kifaratnya (tebusannya) adalah melakukannya jika dia ingat”. HR.Bukhori
      Jadi tidak semua orang boleh mengqodo' shalat, hanya orang yang SECARA TIDAK SENGAJA ketiduran sampai lewat waktu shalat yang boleh mengqodo'nya.
      masalah wanita kenapa tidak harus mengqodo' adalalah memang karena itu adalah kekurangan agama bagi wanita.
      sabda beliau :
      “Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksudnya kurang akalnya wanita?” Beliau menjawab, “Bukankah persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki?” Ditanyakan lagi, “Ya Rasulullah, apa maksudnya wanita kurang agamanya?” “Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa?” jawab beliau.
      pada intinya, tugas utama seorang wanita yang terpenting adalah taat pada suami.

      Hapus