Selasa, 06 November 2012

Bersentuhan Dengan Lawan Jenis Tidak Membatalkan Wudhu

Dalam masalah ini, para ulama terbagi menjadi :
Pertama, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Imam Az-Zuhri, kalangan madzhab Syafi’, dan yang loain berpendapat bahwa menyentuh perempuan yang bukan mahram bisa membatalkan wudhu, berdasarkan firman Allah :
اَوْلمَسْتُمُ النِّساَءَ فَلَمْ تَجِدُوا مآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيْداً طيِّباً
Atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). (QS Al-Maidah : 6)
Mereka mengatakan “ayat diatas dengan jelas dan tandas menginformasikan bahwa menyentuh atau memegang (al-lams) perempuan termasuk hadats yang mewajibkan wudhu ulang. Menurut makna hakikinya, al-lams berarti menyentuh tangan, namun ia dapat diperluas dengan memasukan kedalamnya segala bentuk perbuatan yang kontak dengan kulit. Hal ini merujuk pada hadis Abdurrahman bin Abu Laila dan Muadz bin Jabal, bahasanya ia sedang duduk di sisi Rasulullah SAW, ketika seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah dan berkata “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda mengenai seorang laki0laki yang bermesraan dengan perempuan yang tidak halal baginya, dan ia tidak meninggalkan sesuatu yang biasa dilakukan seorang suami kepada istrinya kecuali ia lakukan terhadapnya, hanya saja ia tidak menyetubuhinya.” Rasulullah menjawab “wudulah dengan wudhu yang bagus, kemudian berdiri dan shalatlah” hadis ini terputus mata rantai sanadnya, karena Ibnu Abu Laila tidak pernah mendengar langsung dari sahabat Muadz bin Jalal.
Kedua, kalangan madzhab Hanafi berpandangan bahwa bersentuhan dengan perempuan tidak membatalkan wudhu kecuali hubungan intim, yaitu kontak dua alat kelamin tanpa penghalang, disertai dengan ereksi meskipun dengan sesama jenis, yang demikianlah yang membatalkan wudhu, meskipun tidak ditemukan basah yang keluar dari alat kelamin mereka – menurut pendapat Imam Abu Hanifah, dan  Abu Yusuf, karena yang sesungguhnya yang demikian itu biasanya tidak jarang dari keluarnya madzi.
            kalangan ulama madzhab Hanafi dan yang sependapat dengan mereka berargumen dengan hadis Urwah bin Zubair dari Aisyah ra, bahwasanya Nabi mencium salah seorang istrinya, kemudian beliau keluar menjalankan shalat tanpa wudhu. Urwah berkata “Aku bilang kepada (Aisyah), siapa lagi kalau bukan anda, dan ia hanya tertawa”
            terkait dengan ayat diatas yang dijadikan hujjah kelompok pertama, kalangan ulama madzhab Hanafi memberi tanggapan bahwasanya yang dimaksud dengan al-mulamasah (kontak kulit) dalam ayat diatas adalah  jima’ (bersetubuh) secara alegoris (majaz). Hal ini didukung oleh hadis-hadis yang secar lugas menyatakan tidak batalnya wudhu karen bersentuhan kulit, dan ini adalah tafsir sayidina Ali dan Ibnu Abbas yang telah diberi pengetahuan oleh Allah untuk mentakwilkan kitab-Nya.
            Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal berkata, “Perintah Nabi SAW kepada laki-laki yang bertanya dalam hadis di atas bias jadi untuk menghilangkan maksiat, karena memang wudhu dapat melebur dosa-dosa, dan dapat juga karena kondisi yang diduga kuat mengakibatkan keluarnya madzi  akibat kontak tidak senonoh tersebut.”
Ketiga, kalangan ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa kontak kulit (sentuhan) yang membatalkan wudhu adalah sentuhan yang diikuti dengan syahwat. Sedangkan jika idak dibarengi syahwat, tidak membatalkan wudhu.

Simpul kata, terjadi perbedaan pendapat mengenai hal yang membatalkan wudhu dan tidak membatalkan wudhu akibat bersentuhan kulit yang bukan mahrom, menurut buku “Fiqih Ibadah” yang dikarang oleh Prof. Dr. Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Prof. Dr. Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, pendapat yang menyatakan tidak batal lebih kuat dalilnya(pendapat kalangan Hanafi), dan inilah pendapat yang unggul (rajih).

0 komentar:

Posting Komentar