Membaca AlQuran Untuk Mayat

Pendapat yang paling Kuat menyatakan bahwa membaca alquran untuk orang yang telah minggal adalah bid'ah dan pahalanya tidak akan sampai kepada si mayit.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 30 Desember 2012

Syarat Jumlah Jamaah Shalat Jum'at

          
Termasuk syarat sahnya shalat jum'at adalah hendaknya ia dilakukan secara berjamaah. Manurut madzhab Syafi'i dan Hambali bahwa shalat jumat harus dilakukan oleh tidak kurang dari empat puluh orang, termasuk imam, apabila kurang dari jumlah itu, maka shalat jum'at tidak dapat dilaksanakan. Sedangakan menurut madzah Maliki, para pesera shalat jum'at harus tidak kurang dari dua belas orang selain imam, dan mereka haruslah orang-orang yang diwajibkan atas mereka shalat jum'at, dan mereka harus berasal dari orang-orang yang tinggal di daerah situ, serta mereka harus hadir, dari permulaan dua khutbah sampai selesai.

            Madzab Hanafi mansyaratkan bahwa shalat jum'at harus dilakukan secara berjamaah oleh tiga orang selain imam, meskipun mereka tidak menghadiri khutbah.

Dari sini menjadi jelas bahwa, jumlah wajib jamaah shalat juma'at masihlah menjadi perbedaan pendapat.



Keywords :
Jumlah jama'ah shalat jum'at, syarat syah shalat jum'at, berapakah syarat minimal jumlah jamaah shalat jum'at?, shalat jum'at, jamaah shalat jumat.

Senin, 19 November 2012

HAL-HAL YANG DIMAKRUHKAN DALAM SHALAT BERJAMAAN

     Jika imam melanggar ketentuan yang telah di syariatkan dalam shalat, seperti cara berdirinya imam di dalam shaff, dimana ia berdiri dia antara dua orang atau lebih, ini dimakruhkan tetapi shalatnya sah, begitu pula shalat diantara tiang penyangga. Hal ini didasarkan pada penuturan Annas: "Kami menghindari shalat diantara tiang-tiang (HR Abu Daud, Attirmidzi, dan An-Nasai). Dan berdasarkan hadis Muawiyah bin Qurrah dari ayahnya ia becerita: "Kami dilarang berbaris diantara sawari pada masa hidup Rasulullah SAW dan kami benar-benar di usir dari sana (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

     Pendapat yang paling rajih adalah bahwa makruh hukumnya bagi ma'mum jika itu membuat terputusnya shaff dan tidak makruh bagi selain mereka. Hadis Muawiyah di atas mengenai larangan berbaris diantara sawari secara implisit menunjukan ketidakmakruhan  bagi selain ma'mum. Ini adalah pendapat kalangan Madzhab Syafi'i dan Hambali, dan didukung dengan tindakan Rasulullah yang di teragkan dalam hadis narasi Ibnu Umar bahwasnya ketika memasuki ka'bah Nabi SAW shalat diantara dua tiang (HR Bukori dan Muslim).

     Hal-hal lain yang dimakruhkan dalam shalat berjamaah adalah sebagi berikut:
  1. Posisi imam lebih tinggi dari ma'mum. Berdasarkan hadis narasi Hammam, ia bercerita: Hudzaifah mengimami kami shalat diatas tempat duduk panjang yang tinggi, lalu sujud diatasnya. Abu Mas'ud menariknya dan Hudzaifah menurutinya. Seusai shalat, Abu Mas'ud berkata, "Bukankah ini dilarang?" Hudzaifah menjawab, "Bukankah sudah kau lihat aku menurutimu?" (HR Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Hakim dengan sanad shahih). Kecuali jika ada maksud memberikan pengajaran, sebagaimana keterangan dalam hadis Sahl bin Sa'ad As-Sa'idi, ia bercerita, "Aku melihat Rasul duduk diatas mimbar pada hari pertama mimbar itu diletakan. Sambil berdiri diatas mimbar, beliau bertakbir, kemudian ruku', kemudian turun dengan posisi mundur, dan sujud dipangkal mimbar, kemudian kembali. Usai itu, beliau menghadap ke arah orang-orang dan bersabda, "Wahai manusia, sesunggunya aku melakukan ini agar kalian mengikutiku dan mengetahui shalatku." (HR Al-Bukhori).
  2. Ma'mum berdiri sendiri di belakang shaff.

Sabtu, 10 November 2012

Makruh Meniup Minuman

عَن اَبِي سَعِيدٍ الخٌدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهٌ عَنْهُ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عليه وسلم نَهَى عَنِ النَّفْخِ فِى الشَّرَابِ,  فَقَالَ رَجُلٌ : القَذَاةُ اَرَاهَا فِى الإِنَاءِ؟ فَقَالَ : << اَهْرِقْهَا >> قَالَ : اِنِّى لاَاَرْوَى مِنْ نَفَسٍ وَاحِدٍ؟ قَالَ : فَاَبِنِ القَدَحَ اذًا عَنْ فِيْكَ
رواه الترميذي وقال: حديث حسن صحيح-

Dari Abu Sa'id Al Kudri r.a, bahwa Nabi SAW melarang meniup minuman, seorang sahabat berkata: "Ya Rasulullah, sedangkan saya melihat kotoran di bejana?", ia bersabda: "Tumpahkan", kemudia ia berkata: "Sesungguhnya aku tidak merasa lepas dahaga kecuali minum dengan satu nafas?", ia bersabda: "Kalau begitu jauhkan kendi dari mulutmu". (HR Tirmidzi, ia berkata: "Derajat hadis ini hasan sahih".

Selasa, 06 November 2012

Memutus Shalat Dan Sebab-Sebab Yang Membolehkannya

     Shalat mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan mulia, mengingat shalat merupakan munajat seorang hamba kepada Tuhannya. Oleh karena itu, membatalkan shalat tanpa udzur/sebab merupakan tindakan haram, akan tetapi jika terdapat udzur maka tidak haram hukumnya membatalkan shalat. Bahkan jika udzur tersebut harus dilakukan maka membatalkan shalat menjadi wajib, misalnya membatalkan shalat untuk mengeluarkan mushaf yang tegeletak ditempat najis, atau menyelamatkan orang buta yang akan terjatuh kedalam lubang, atau menyelamatkan harta benda yang dikhawatirkan kalau ditinggal akan hancur dan rusak.

     Diperbolehkan juga membatalkan shalat sunnah untuk mengikuti shalat jenazah. Bagi wanita, ia diperbolehkan membatalkan shalat sunnahnya untuk memenuhi hak suaminya. Karena kedua tindakan tersebut adalah keluar dari perbuatan sunnahuntuk melakukan suatu perbuatan  yang wajib. Disunnahkan pula membatalkan shalat fardu karena mendapatkan shalat jamaah. Menurut pendapat kalangan ulama mazhab Hanafi dan Asy-Syafi'i, ketika seorang melaksanakan shalat fardu sendirian, kemudian ada seorang imam melakukan takbiratul ihram ditempat ia melaksanakan shalat dan saat itu ia belum melaksanakan sujud rakaat pertama, maka ia disunnahkan memutus shalat dengan melakukan salam kemudian mengikuti jamaah untuk mendaatkan keutamaan jamaah.

     Ini adalah pendapat yang dikatakan oleh kalangan ulama mazab Hanafi, sedangkan kalangan ulama madzab Syafi'i berpendapat bahwa orang tersebut disunnahkan untuk menyempurnakan shalat yang sudah diniati dengan melakukan shalat dua rakaat. Hal ini jika tidak takut ketinggalan jamaah, dan dua rakaan tersebut dianggap shalat sunnah, kemudian baru setelah itu mengikuti jamaah. Akan tetapi jika takut ketinggalan jamaah, maka ia disunnahkan memutus apa yang  telah diniati dan langsung mengikuti jamaah. Menurut kalangan ulama madzab Hanbali, ia boleh langsung mengikuti jamaah tanpa harus memutus shalatnya.

Bersentuhan Dengan Lawan Jenis Tidak Membatalkan Wudhu

Dalam masalah ini, para ulama terbagi menjadi :
Pertama, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Imam Az-Zuhri, kalangan madzhab Syafi’, dan yang loain berpendapat bahwa menyentuh perempuan yang bukan mahram bisa membatalkan wudhu, berdasarkan firman Allah :
اَوْلمَسْتُمُ النِّساَءَ فَلَمْ تَجِدُوا مآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيْداً طيِّباً
Atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). (QS Al-Maidah : 6)
Mereka mengatakan “ayat diatas dengan jelas dan tandas menginformasikan bahwa menyentuh atau memegang (al-lams) perempuan termasuk hadats yang mewajibkan wudhu ulang. Menurut makna hakikinya, al-lams berarti menyentuh tangan, namun ia dapat diperluas dengan memasukan kedalamnya segala bentuk perbuatan yang kontak dengan kulit. Hal ini merujuk pada hadis Abdurrahman bin Abu Laila dan Muadz bin Jabal, bahasanya ia sedang duduk di sisi Rasulullah SAW, ketika seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah dan berkata “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda mengenai seorang laki0laki yang bermesraan dengan perempuan yang tidak halal baginya, dan ia tidak meninggalkan sesuatu yang biasa dilakukan seorang suami kepada istrinya kecuali ia lakukan terhadapnya, hanya saja ia tidak menyetubuhinya.” Rasulullah menjawab “wudulah dengan wudhu yang bagus, kemudian berdiri dan shalatlah” hadis ini terputus mata rantai sanadnya, karena Ibnu Abu Laila tidak pernah mendengar langsung dari sahabat Muadz bin Jalal.
Kedua, kalangan madzhab Hanafi berpandangan bahwa bersentuhan dengan perempuan tidak membatalkan wudhu kecuali hubungan intim, yaitu kontak dua alat kelamin tanpa penghalang, disertai dengan ereksi meskipun dengan sesama jenis, yang demikianlah yang membatalkan wudhu, meskipun tidak ditemukan basah yang keluar dari alat kelamin mereka – menurut pendapat Imam Abu Hanifah, dan  Abu Yusuf, karena yang sesungguhnya yang demikian itu biasanya tidak jarang dari keluarnya madzi.
            kalangan ulama madzhab Hanafi dan yang sependapat dengan mereka berargumen dengan hadis Urwah bin Zubair dari Aisyah ra, bahwasanya Nabi mencium salah seorang istrinya, kemudian beliau keluar menjalankan shalat tanpa wudhu. Urwah berkata “Aku bilang kepada (Aisyah), siapa lagi kalau bukan anda, dan ia hanya tertawa”
            terkait dengan ayat diatas yang dijadikan hujjah kelompok pertama, kalangan ulama madzhab Hanafi memberi tanggapan bahwasanya yang dimaksud dengan al-mulamasah (kontak kulit) dalam ayat diatas adalah  jima’ (bersetubuh) secara alegoris (majaz). Hal ini didukung oleh hadis-hadis yang secar lugas menyatakan tidak batalnya wudhu karen bersentuhan kulit, dan ini adalah tafsir sayidina Ali dan Ibnu Abbas yang telah diberi pengetahuan oleh Allah untuk mentakwilkan kitab-Nya.
            Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal berkata, “Perintah Nabi SAW kepada laki-laki yang bertanya dalam hadis di atas bias jadi untuk menghilangkan maksiat, karena memang wudhu dapat melebur dosa-dosa, dan dapat juga karena kondisi yang diduga kuat mengakibatkan keluarnya madzi  akibat kontak tidak senonoh tersebut.”
Ketiga, kalangan ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa kontak kulit (sentuhan) yang membatalkan wudhu adalah sentuhan yang diikuti dengan syahwat. Sedangkan jika idak dibarengi syahwat, tidak membatalkan wudhu.

Simpul kata, terjadi perbedaan pendapat mengenai hal yang membatalkan wudhu dan tidak membatalkan wudhu akibat bersentuhan kulit yang bukan mahrom, menurut buku “Fiqih Ibadah” yang dikarang oleh Prof. Dr. Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Prof. Dr. Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, pendapat yang menyatakan tidak batal lebih kuat dalilnya(pendapat kalangan Hanafi), dan inilah pendapat yang unggul (rajih).